Meski Pahit, 7 Makanan Ini Ampuh Kurangi Risiko Penyakit

| Tidak ada komentar

Meski Pahit, 7 Makanan Ini Ampuh Kurangi Risiko Penyakit

Apakah makanan pahit selalu bernutrisi dan berkhasiat menyembuhkan penyakit? Jawabannya mungkin belum tentu. Namun demikian, 7 makanan yang terkenal memiliki cita rasa pahit ini setidaknya dianggap efektif membantu diet dan menurunkan risiko berbagai penyakit. Berani coba?

Sudah bukan rahasia lagi jika pola makanan sehat menjadi kebutuhan yang semakin meningkat di tengah gaya hidup masyarakat modern. Seringkali, menu makanan sehat banyak diburu untuk meengkapi program diet bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan, atau sekedar menerapkan pola gizi seimbang.

Dalam hal ini, sayuran pahit dan makanan sejenis sering dipercaya ampuh untuk melancarkan program diet ataupun menurunkan risiko penyakit. Meski tidak banyak orang yang menyukai cita rasa pahit, 7 makanan ini patut dipertimbangkan jika Anda benar-benar serius ingin menjalankan konsumsi makanan sehat. Lagipula, beberapa di antaranya bisa dikonsumsi dengan cara diseduh, sehingga Anda tak perlu khawatir untuk mengunyah rasa pahit makanan-makanan penuh khasiat berikut:

1. Kale

Kale untuk kesehatan

Sebuah riset menunjukkan bahwa glukosinolat bisa memperlambat pertumbuhan dan penyebaran sel kanker. Zat inilah yang terkandung dalam sayuran dari kelompok cruciferous seperti brokoli, kubis, kangkung, lobak, dan kale.

Secara khusus, Kale bisa menjadi bahan makanan yang direkomendasikan untuk diet karena mampu memberikan rasa kenyang lebih lama. Usut punya usut, sayuran ini memang perlu waktu cukup lama untuk dicerna. Selain itu, Kale juga baik untuk penderita diabetes.

2. Bayam

Bayam untuk kesehatan

Sayuran ini sangat mudah didapatkan di pasar tradisional dan bisa diolah menjadi berbagai macam masakan. Namun demikian, bayam dianggap memiliki rasa pahit oleh sebagian orang meski nutrisinya sangat bermanfaat bagi tubuh. Selain kaya serat, bayam juga mengandung vitamin A, C, E, K, B2, B6, lutein, magnesium, mangan, asam folat, zat besi, kalsium, kalium, dan tembaga. Tak heran jika sayuran ini sering direkomendasikan dalam menu diet.

3. Teh Hijau

Teh hijau untuk kesehatan

Di negara-negara yang erat dengan budaya minum teh seperti China dan India, teh hijau merupakan salah satu produk teh utama yang dikenal akan khasiatnya. Selain mampu menurunkan berat badan, teh hijau mengandung antioksidan penting yang dapat berkontribusi membunuh sel kanker serta menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.

4. Pare

Pare untuk kesehatan

Mungkin Anda sering menjumpai tumis pare, botok pare, atau campuran pare dalam siomay. Ya, sayuran ini memang sudah cukup merakyat di Indonesia, dan cukup banyak digemari oleh masyarakat meski rasanya amat pahit. Uniknya, pare ternyata juga menjadi sayur yang berkhasiat karena mengandung fitokimia seperti, triterpenoid, polifenol, dan flavonoid yang terbukti memperlambat pertumbuhan berbagai jenis kanker.

Pare juga diyakini bagus untuk dikonsumsi penderita diabetes karena mengandung senyawa mirip insulin yang disebut Polypeptide-p atau p-insulin.

5. Kopi Hitam

Kopi hitam untuk kesehatan

Anda penggemar kopi? Jika ya, maka bersenanghatilah karena kopi hitam ternyata juga dianggap berkhasiat untuk mendukung pola hidup sehat. Pada dasarnya, kopi dilengkapi dengan rasa pahit yang unik karena adanya polifenol. Salah satu jenis polifenol yang banyak terdapat pada kopi adalah asam klorogenat; antioksidan kuat yang diyakini dapat mengurangi kerusakan oksidatif, diabetes, dan risiko penyakit jantung.

6. Brotowali

Brotowali untuk kesehatan

Tumbuhan brotowali sering diolah sebagai jamu tradisional di Indonesia. Rasa pahit sudah menjadi ciri khas olahan brotowali, sehingga tak semua masyarakat gemar mengkonsumsi jamu yang satu ini. Meskipun demikian, brotowali diyakini berkhasiat dan mampu melindungi tubuh dari berbagai penyakit. Tumbuhan ini mengandung banyak sekali fitokimia dan bisa membantu mengontrol kadar gula, menurunkan tekanan darah, hingga melawan efek alergi.

7. Bubuk Kakao

Bubuk Kakao untuk Kesehatan

Dikenal sebagai bahan utama pembuatan cokelat, bubuk kakao yang bercita rasa pahit ternyata mengandung zat-zat bermanfaat seperti polifenol dan antioksidan.

Sebuah riset menyebutkan bahwa orang yang mengkonsumsi cokelat paling tidak 5 kali per minggu memiliki risiko penyakit jantung lebih rendah daripada mereka yang tidak makan cokelat sama sekali. Tak tanggung-tanggung, perbedaan risiko tersebut bahkan mencapai 56 persen. Peneliti yang terlibat dalam riset tersebut meyakini jika polifenol dan antioksidan bertanggung jawab dalam memperlebar pembuluh darah, mengurangi peradangan, juga melindungi jantung.

Penulis:

Content writer pemerhati bahasa dan ide-ide tulisan gaya hidup. Sedang mencari inspirasi menghadapi quarter life crisis di tengah dinamika masyarakat yang terlalu bersosial.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi