Kenali 5 Teknik Menggoreng Makanan Jika Tak Ingin Resep Gagal

| Tidak ada komentar

Kenali 5 Teknik Menggoreng Makanan Jika Tak Ingin Resep Gagal

Menggoreng adalah salah satu cara mengolah makanan paling simpel dan mudah dilakukan. Namun tahukah kamu jika ada 5 macam teknik menggoreng dengan bermacam-macam fungsi dan cara? Salah menggunakan teknik menggoreng bisa membuat resep makanan gagal, lho!

1. Pan Frying

Dimulai dari yang paling minim menggunakan minyak goreng, Pan Frying pada dasarnya adalah teknik menggoreng makanan dengan sangat sedikit minyak di atas penggorengan. Kebutuhan minyak dalam teknik ini bisa dikatakan hanya untuk melumasi wajan agar tidak lengket saat digunakan untuk menggoreng.

Pan Frying

Pan Frying dilakukan dengan membolak-balik bahan makanan hingga sisi atas dan bawahnya matang. Proses memasak bisa dikatakan selesai apabila kedua sisi makanan telah berwarna cokelat tua dan memiliki tekstur kering di permukaan. Contoh makanan yang diolah dengan cara menggoreng ini adalah steak, sosis, dan beef untuk beef burger.

2. Sauteing

Selanjutnya, ada sauteing atau yang lebih akrab dikenal sebagai menumis. Pertama kali diperkenalkan di Prancis pada abad ke-19 dan 20, cara menggoreng ini menggunakan lebih banyak minyak daripada teknik Pan Frying. Meskipun demikian, menumis tentu saja tidak bisa menggunakan terlalu banyak minyak.

Sauteing

Yang perlu diperhatikan juga, Sauteing biasa diterapkan untuk makanan yang telah dipotong-potong dan dilakukan dalam waktu relatif singkat. Jika proses menggoreng terlalu lama, maka berisiko membuat makanan terlalu lembek dan tidak enak disantap. Beberapa jenis olahan makanan yang dimasak dengan cara ini adalah tumis jamur, tahu, tempe, dan segala macam tumis-tumisan lainnya.

3. Stir Frying

Stir Frying seringkali dianggap tidak jauh berbeda dari Sateung. Meskipun begitu, cara menggoreng ini memiliki ciri khasnya sendiri, di mana minyak yang digunakan biasanya sedikit lebih banyak dan memerlukan cara memasak yang lebih aktif agar bumbu lebih merata dan meresap dalam makanan.

Stir Frying

Jenis-jenis masakan China adalah contoh paling umum yang menggunakan teknik Stir Frying. Para koki masakan China biasanya akan menggunakan wajan besar yang diguncang berkali-kali agar kematangan merata.

4. Shallow Frying

Cara memasak ini bisa dikatakan setengah merendam makanan dalam minyak goreng yang telah dipanaskan. Dengan demikian, ketinggian minyak kira-kira 1/2 bagian dari makanan yang dimasak. Shallow Frying pada dasarnya dilakukan untuk mendapatkan masakan renyah di bagian luar dan berwarna coklat keemasan.

Shallow Frying

Selain teknik Sauteing, cara ini adalah yang paling merakyat di kalangan masyarakat Indonesia untuk membuat makanan sehari-hari. Karena itu, ada banyak jenis makanan hasil Shallow Frying yang mungkin familiar bagi Anda. Diantaranya adalah ikan goreng, perkedel, ayam goreng, nugget, dan kroket.

5. Deep Frying

Deep Frying dilakukan dengan cara merendam seluruh bagian makanan dalam minyak panas. Dibandingkan teknik-teknik menggoreng sebelumnya, Deep Frying adalah yang paling banyak membutuhkan minyak, karena makanan harus terendak seluruhnya agar proses memasaknya berhasil.

Deep Frying

Meski kurang baik untuk kesehatan karena akan menyebabkan banyak minyak yang meresap ke dalam makanan, Deep Frying paling efektif untuk memastikan makanan matang secara merata dan lebih renyah.

Teknik Deep Frying diterapkan untuk membuat aneka gorengan seperti kentang goreng, krupuk, dan bermacam-macam gorengan yang mungkin Anda temui di penjual-penjual pinggir jalan.


Setelah mengetahui perbedaan cara-cara menggoreng makanan, berhati-hatilah untuk memilih teknik yang tepat saat mencoba suatu resep. Jangan sampai makanan yang seharusnya digoreng dengan teknik Deep Frying justru diolah dengan cara Shallow Frying atau bahkan Sauteing. Bukannya matang sempurna, hasil makanan akan meleset jauh dari ekspektasi.

Penulis:

Content writer pemerhati bahasa dan ide-ide tulisan gaya hidup. Sedang mencari inspirasi menghadapi quarter life crisis di tengah dinamika masyarakat yang terlalu bersosial.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi