5 Fakta Se’i, Kuliner Hits Dari NTT Yang Penuh Keunikan

| Tidak ada komentar

5 Fakta Se’i, Kuliner Hits Dari NTT Yang Penuh Keunikan

Menu makanan se’i belakangan menjadi trend di berbagai resto dan tempat makanan lainnya. Sepintas, banyak yang mengira jika se’i identik dengan daging asap yang memiliki cita rasa khas. Namun ternyata, hal itu tidaklah benar. Se’i memang memiliki rasa yang istimewa, tapi ada beragam fakta menarik yang membuat makanan hits asal Nusa Tenggara Timur ini berbeda dari apa yang kamu kira. Apa sajakah itu?

1. Mempertahankan Rasa Dan Warna

Pengolahan makanan merupakan hal terpenting dalam kuliner se’i. Sebab, aspek inilah yang membedakan se’i dengan kuliner lainnya. Se’i sendiri sebenarnya adalah teknik memasak daging menggunakan arang yang jauh dari tempat pemanggangannya.

Teknik ini diperkenalkan oleh suku Molo dari NTT, dan bisa memakan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Dengan demikian, cara memasak se’i tidak bisa disamakan dengan memanggang atau membakar daging pada umumnya.

Dicky Senda, seorang ahli kuliner Timor dari Komunitas Lakoatkujawas menjelaskan proses memasak se’i dengan cukup detail. Ia memaparkan bahwa selama proses, tidak ada asap yang boleh merasuk ke daging agar cita rasa daging tidak berubah ketika matang. Itulah mengapa tungku untuk menyalakan bara api terpisah dengan tempat mematangkan daging.

“Tinggi tempat meletakkan daging dari arang itu sangat jauh, bisa lebih dari dua meter,” kata Dicky Senda sebagaimana dilansir Tempo. Ia juga menambahkan bahwa bara api harus terus menyala tanpa dikipas agar tidak menghasilkan asap.

Satu hal lagi yang tak bisa dipisahkan dari cara memasak se’i adalah penggunaan kosambi. Usut punya usut, teknik penggunaan kosambi rupanya berkaitan dengan upaya mempertahankan bara pada arang agar awet.

Cara memasak se'i

Dalam hal ini, suku Molo menggunakan kayu kosambi yang tebal dan besar, juga memanfaatkan daun kosambi sebagai penutup daging. Selain memastikan daging matang sempurna, daun kosambi juga berfungsi sebagai penahan panas saat daging sedang dise’i dan menjaga keaslian rasa serta warna. Itulah mengapa warna daging se’i tidak berubah menjadi coklat apalagi kehitam-hitaman saat matang.

2. Tidak Berawal Dari Daging Sapi

Dengan banyaknya brand makanan yang menggunakan se’i sapi sebagai menu utama, banyak yang mengira jika daging sapi adalah bahan utama dari makanan hits yang satu ini. Padahal, kenyataannya tidaklah demikian.

Di daerah asalnya di Nusa Tenggara Timur, menu makanan se’i banyak yang menggunakan daging babi sebagai bahan dasarnya. Baru setelah se’i mulai dikenal di daerah lain, menu se’i divariasikan dengan daging sapi agar bisa diterima secara lebih luas.

Se'i Daging Babi
Se’i babi, smoked pork, specialty of Kupang city, East Nusa Tenggara, Indonesia.

Yang lebih unik lagi, sebelum penggunaan daging babi meluas di kalangan masyarakat NTT, se’i sebenarnya diolah dengan daging rusa. Hal ini dikonfirmasi oleh Marcomm dan PR Waroenk Group, Merlin Sinlae. “Dulu, awalnya daging Sei menggunakan daging rusa. Tetapi, rusa semakin langka dan dilindungi, maka saat ini yang digunakan adalah daging sapi atau daging babi,” terang Merlin.

Ia juga menjelaskan bahwa pangsa pasar se’i kini bahkan lebih banyak didominasi oleh se’i sapi, ayam, atau variasi daging yang halal. Meskipun tidak otentik seperti di daerah asalnya, se’i sapi dan jenis se’i lainnya tetap diakui keasliannya. Yang penting adalah bagaimana mempertahankan teknik memasak dan cita rasanya.

3. Tanpa Garam

Selain melalui proses memasak yang unik dan berawal dari penggunaan bahan daging yang tidak biasa, se’i juga menyimpan fakta menarik lain yang berasal dari penggunaan bumbu. Tidak seperti kuliner nusantara lain yang secara umum belum terlepas dari penggunaan garam, se’i di tempat asalnya tidak terlalu mengandalkan garam.

Pasalnya, suku Molo yang tinggal di wilayah pegunungan tidak mengenal garam. Ahli kuliner Dicky Senda menjabarkan bahwa di tempat tinggal suku tersebut, garam dibawa oleh orang pesisir sehingga menjadi komoditas yang tidak dikenal luas. Karena itulah se’i dibuat tawar.

Se'i Asli Tanpa Garam

Meskipun demikian, se’i sapi yang sudah dipasarkan secara luas biasanya memiliki rasa gurih dan asin. Hal ini dikonfirmasi oleh penulis Tempo yang menganggap cita rasa se’i serupa steak dengan tingkat kematangan well done. “Se’i sapi sudah lezat alami tanpa saus. Tak ada cita rasa daging hangus atau pahit,” demikian ungkap penulis tersebut.

4. Dihidangkan Dengan Sambal Luat

Banyak orang mengatakan jika suatu hidangan tak akan lengkap tanpa sambal. Rupanya, ini juga bisa berlaku jika kamu menyantap se’i. Sambal yang dihidangkan bersama se’i pun bukan sembarang sambal.

Adalah sambal luat yang dibuat dari campuran fermentasi cabai, bawang putih, kulit jeruk purut, daun jeruk, daun peterseli, daun ketumbar, dan garam sebagai pendamping se’i. Proses pembuatannya pun cukup menantang, karena harus disimpan dalam tabung hingga dua bulan sebelum bisa disantap.

Se'i sambal luat

Selain sambal luat, kuliner se’i juga biasanya dihidangkan bersama nasi daun jeruk dan tumis bunga pepaya yang diolah sedemikian rupa agar tidak terlalu pahit. Sebagai alternatif, tumis bunga pepaya juga bisa diganti dengan tumis daun singkong.

5. Mengandung Beraneka Gizi

Secara umum, daging merupakan salah satu makanan yang kaya akan protein. Oleh karena itu, tak heran jika se’i menjadi sumber protein yang bisa diandalkan. Dalam 100 gram daging se’i, terkandung 32 gram. Selain itu, ada pula sekitar 6 gram lemak, 5 miligram zat besi, 300 miligram fosfor, dan 15 miligram kalsium.

Jika ditambah dengan nasi putih dan sayuran yang menjadi pelengkap se’i, maka kamu bisa mendapatkan beraneka gizi yang dibutuhkan tubuh dalam seporsi menu se’i.


Itulah fakta-fakta menarik se’i yang membedakan makanan khas NTT ini dengan kuliner nusantara lainnya. Jika kamu penasaran dan ingin mencobanya, saat ini sudah banyak resto yang secara khusus menyediakan se’i atau sekedar menambahkannya dalam menu. Selain se’i sapi, variasi se’i yang cukup populer ditawarkan adalah se’i ayam.

Penulis:

Content writer pemerhati bahasa dan ide-ide tulisan gaya hidup. Sedang mencari inspirasi menghadapi quarter life crisis di tengah dinamika masyarakat yang terlalu bersosial.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi